Presentasi ?? Siapa takut!

Selamat malam sahabat, akhir- akhir ini penulis sering mendengar sekaligus membaca deretan status tentang tugas presentasi. Kebanyakan dari mereka gugup menghadapi tugas tersebut, yupp bagi yang masih bersekolah maupun kuliah akan sering berhadapan dengan ini. Rasanya tugas sepele tapi bikin deg-degan di hati. hehe.

Kadang suka iseng tanya sama mereka, yang bikin gugup presentasi itu apa sih? Bukannya sama seperti berbicara biasa?hanya lebih terstruktur dan terdapat alasan yang logis saja? Dan jawaban mereka adalah ( jeng- jeng )

  1. Saya demam panggung
  2. Saya takut lupa sama materinya
  3. Saat sesi tanya diskusi saya takut nggak bisa jawab
  4. Saya takut dimarahi

 

Nah itulah sedikit dari sekian banyaknya alasan kenapa selalu gugup saat mendekati presentasi. Berawal dari kata takut, sedangkan takut itu berawal dari kita sendiri. Dulu saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan, saya juga mengalaminya, tapi itu tak berlangsung lama. Di waktu- waktu berikutnya saya mencari cara bagaimana bisa mengalahkan rasa gugup tersebut, apalagi presentasi memiliki bobot besar dalam penilaian.  Lantas apa saja usha kecil dan minimalis yang pernah saya lakukan??. Hemm mari kita simakk, mungkin ada yang memerlukan

  1. Mengalahkan rasa takut

Membuat keyakinan pada diri kita, bahwa kita bisa. Bagi saya rasa takut sebelum memulai adalah kekalahan. Ini adalah poin yang paling pertama

  1. Memahami materi

Hal wajib yang perlu dilakukan dalam sebuah presentasi. Bagimana mungkin kita akan berbicara di depan umum tanpa mengetahui apa yang akan dibicarakan. Ingat ya memahami, bukan menghafal materi. Sedangkan yang dihafal cukup poin- poin pentingnya saja.

  1. Berlatih

Alasan demam panggung, introvert, jarang berbicara di depan umum sebenarnya dapat diatasi. Dengan membiasakan diri berbicara, mulai dari orangtua dalam diskusi keluarga, bicara pada anak- anak, bicara dengan teman sebaya yang sedang berkumpul, dimanapun, pokonya ambil bagian di dalamnya. Berlatih bisa dilakukan beberapa hari sebelumnya, karena tugas presentasi jarang ada yang dadakan. Dulu saat latihan saya sering bicara I depan kaca yang besar, di depan tim presentasi saya, bahkan tak jarang merekam dengan video. Nanti kita simak hasilnya, adakah yang kurang pantas dalam berbicara, gesturnya kurang pas, suaranya kurang keras dan lain sebagainya.

  1. Mempersembahkan presentasi dengan sebaik- baiknya

Lakukan presentasi tanpa tergesa- gesa, dan bersikap tenanglah. Untuk urusan sesi tanya jawab, jika tim sudah mempersiapkan materi  dengan baik dan membacanya, tentu akan mudah diatasi.

 

Pada intinya, untuk melakukan presentasi kita memerlukan percaya diri yang cukup tinggi. Dan hal- hal yang lainnya saya rasa akan mengikuti sendiri. Lantas dari hal- hal yang sudah saya sebutkan diatas apa yang sudah saya peroleh? Hem banyak. Sejak saya melakukan presentasi pertama kali saya selalu melakukan evaluasi, dan untuk presentasi berikutnya saya selalu mempersiapkan  dengan baik.

Hasilnya, apresiasi selalu  mengikuti penampilan saya baik di perkuliahan ataupun di tempat lainnya, bahkan selama SMK saya selalu mengikuti lomba pidato setiap tahunnya, dan akhirnya alhamdulillah. Akhir- khir ini bahkan saya juga pernah diminta menjadi master of training, master of ceremony alias MC, melatih lomba da’i cilik, bahkan diminta memberikan sambutan dadakan di sebuah acara, dan dari keberanian berbicara tak jarang uang jajan tambahan masuk ke saku saya. hehehe

Menelisik Kerajaan di Surakarta Pura Mangkunegaran

Solo kota berseri yang menyimpan segudang  budaya  juga seni. Di kota ini bersemayam kerajaan yang mengukir sejarah di negeri tercinta ini, di pura mangkunegaran ini pernah bersemayam seorang Raja  tangguh yang turut membebaskan Ibu Pertiwi dari jeratan kompeni. Ya dialah Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyowo. Beberapa hari yang lalu, kami menyempatkan mengunjungi tempat ini. Pura Mangkunegaan yang terletak di Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Banjarsari, Surkarta, Jawa Tengah. Dari arah barat, tepatnya di halte dekat kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta kami melaju menggunakan transportasi umum Batik Solo Trans ( BST ) koridor 1, lalu turun di Ngarsopuro. Turun dari bus kami menyusuri jalan yang tak begitu ramai menuju Pura Mangkunegaran.

Tampak dari luar, memang kesannya biasa-biasa saja, apalagi saat kita berkunjung pura itu sedang mengalami renovasi. Memasuki area pura, kami disambut ramah oleh resepsionis yang berjaga. Setelah bicara bla bla bla akhirnya kami membeli tiket masuk sebesar Rp 10.000,00 untuk mengelilingi pura tersebut. Eitsss jangan langsung beranjak, karena kalian akan ditemani guide alias pemandu wisata, karena selain tempat itu mengandung banyak nilai filosofi dan sejarah, pura itu juga masih menjadi kediaman Raja. Nanti kalian bisa berikan tips kepada mereka.

 

Ditemani guide cantik yang kebetulan masih seumuran membuat kami lebih nyaman mengelilingi tempat sakral itu. pertama- tama  kami dibawa ke pendopo ageng. Eitss tunggu dulu alas kaki ternyata harus dilepas lho, tenang pihak keraton sudah menyediakan kantong platik untuk alas kaki kita.( nanti plastiknya dibawa pulang ya, buat kenang-kenangan. Hehehe)

Memasuki pendopo ini akan disajikan bangunan bernuansa Eropa, di halam pendopo terdapat 3 perangkat gamelan yang dimainkan pada waktu tertentu ( Rabu dan Sabtu pukul 10:00 – 12:00 ). Di langit- langit pendopo terdapat semacam lukisan dengan delapan warna yang berbeda yang tentu memiliki makna.Warna kuning dipercaya untuk mencegah kantuk, warna biru untuk menghalau musibah, warna hitam untuk mencegah rasa lapar, warna hijau untuk mengobati depresi, warna putih untuk meredam nafsu seks (birahi), warna orange untuk mengatasi ketakutan, warna merah untuk menghalau setan, dan warna ungu untuk menghalau segala yang jahat.

Usai dari pendopo ageng, kami dibawa menuju Paringgitan. Dulu tempat ini sering digunakan untuk pementasan ringgit atau wayang. Di tempat ini berjajar foto- foto Raja Mangkunegaran yang pernah bertahta. Ada sebuah tempat yang unik untuk mengambil gambar dengan hasil berupa siluet, perlu di coba deh. Tak perlu berlama- lama kami dibawa ke bagian utama dari keraton.

Suasana terasa berbeda ketika kami membuka pintu lalu memulai menapakkan kaki di dalamya, sunyi dan aroma khas keraton begitu menyeruak (kan memang lagi di keraton yakk).  di tempat ini menyimpan segala koleksi dan pernak- pernik keraton pada masa terdahulu seperti perhiasan, medali, senjata, uang yang tentunya sudah disimpan rapi dalam sebuah etalase, sehingga kita tidak dapat menyentuh namun dapat leluasa melihatnya. Hal yang menjadi pusat perhatian disini adalah kursi yang berada di tengah ruangan yang berfungsi sebagai tempat bersemayam Dewi Sri. Sayang sekali di tempat ini kita tidak diperkenankan mengambil gambar, dan jangan coba-coba ya.

Usai melihat lihat ruangan ini, kami diajak ke sebuah tempat dimana kita akan dimanjakan dengan taman beriring angin yang berhembus bebas. Kursi- kursi  bisa kita duduki atau sekedar mengambil gambar dengan backround taman kerajaan, pohon dan bunga yang menambah suasana asri khas tanah Jawa. Di sekitar tempat ini pula digunakan  untuk tinggal para keluarga kerajaan tentunya kita tidak diperkenankan masuk ya.

Bagi pengunjung yang ingin mencari literatur seputar mangkunegaran di pura ini juga disediakan perpustakaan  yang berada di sebelah kanan pendopo ageng. Tenang masuknya gratis, dan kalian yang haus sejarah akan dimanjakan dengan naskah kuno. Beberapa naskah menggunakan bahasa Indonesia, banyak juga yang menggunakan bahasa jawa sekaligus aksaa jawa,  dan tak sedikit yang menggunakan Bahasa Belanda.

 

Mencintai Takdir

Selamat malam sahabat, bagaimana kabarnya. Kira- kira bagaimana perjalanan hidup selama seminggu ini? Menyenangkan atau sebaliknya? Apapun itu semoga kita tetap dapat menikmatinya sebagai ketentuan dari Sang Maha.

Semakin hari umur kita semakin bertambah, cerita dalam dimensi kehidupan juga bertambah. Dulu waktu masih kecil sebagian besar hari-hari kita diliputi bahagia, setelah beranjak pada fase berikutnya kita sering merasa suntuk, dan hari- hari dalam perjalanan hidup banyak diisi dengan keadaan yang tidak kita harapkan dengan sepertinya.  Ah rasanya ada yang salah dalam diri kita.

Pernah nggak kita mendapati kondisi kegagalan? Lantas apa yang kita lakukan? menggerutu? Mencaci maki keadaan? Berprasangka buruk pada Tuhan? Atau tetap bersyukur atas apa kehendak Tuhan yang diberikan?

Mungkin ada juga yang pernah mengalami” sedang melamar pekerjaan setelah apply lamaran sana-sini akhirnya dipanggil sama perusahaan yang kita idamkan, akhirnya waktu interview datang. Dandan rapi tancap gas kendaraan, eh Qodarullah ban bocor diperjalanan, ditambah macet yang tak berkesudahan, hingga akhirnya jadwal  interview hampir habis sementara kita masih terjebak retorika perjalanan yang  berujung pada kegagalan bekerja di perusahaan impian..” atau

Pernah seseorang menawari kita pekerjaan di perantauan dengan gaji yang menggiurkan, namun karena berbagai alasan ternyata pihak keluarga melarang, pupus sudah satu harapan. Semakin sakit lagi ketika melihat rekan kita yang tadi mendapat kenaikan jabatan dan mulai menapaki kesuksesan, kemudian kita begumam “ coba dulu aku iyakan”atau malah orang sekitar disalahkan” ibuk sih, bapak sihh dulu nggak boleh ini, dulu nggak boleh itu.

Dan akhirnya kita asikk menggerutu seiring tahun yang berlalu. Padahal tanpa kita ketahui Perusahaan tersebut tidak seperti yang kita bayangkan sekaligus harapkan. Ternyata di perusahaan tersebut banyak target yang harus cepat diselesaikan, kerjanya menguras waktu liburan sehingga melenakan kita terhadap kewajiban. Menjadikan hubungan kita jauh dari Allah yang telah menciptakan. belum lagi ditambah waktu bertemu dengan keluarga menjadi terpotong sebagian. Bagaimana? Bukankah bila hal tersebut terjadi akan terasa menyeramkan?

Hemm bukan Cuma dalam hal pekerjaan, kita sering mengutuk takdir kehidupan. Missal nih” duhh kenapa sih kalau mau apa-apa harus usahain sendirian? Harus jungkir balik untuk mewujudkan harapan”sementara dia kalau minta apa- apa tinggal minta sama orang tua, kemudian dengan mudah mewujudkan harapan, kenapa sih begini, kenapa sih begitu? Atau ketika ujian datang kita merasa hidup semakin petang.

Lagi- lagi kita menyalahkan kehidupan yang tak lain adalah kehendak Tuhan, lagi- lagi kita kita beranggapan bahwa Allah telah salah menitipkan takdir kehidupan.

Bagi kita yang terbiasa harus mengupayakan sendiri untuk mewujudkan keinginan kita, mengapa harus menggerutu dan menginginkan kehidupan seperti mereka, bukankah seharusnya kita layak berbangga. Bukankah kita mampu  mengurangi sedikit kerepotan orang-orang di sekitar kita?

Sahabat, Allah tidak pernah salah dalam memberikan takdir pada hambaNya, yang salah adalah cara kita dalam menyikapi takdirNya. Apakah kita lupa bahwasannya takdir adalah bagian dari rukun iman.

Mari mentadaburi kembali potongan Ayat Al-Quran ayat 216 “ boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Apalagi saat kita mendapati ujian dan merasakan bahwa langkah hidup kita terasa berat.  Nampaknya kita perlu membuka dan mengkaji kembali Al Qur’an yang telah menjadi pedoman,  pada potongan Surat Al Baqarah ayat 286: “ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Sahabat, kebiasaan menggerutu atau bahkan sampai mengutuk takdir hanya akan memberikan beban berat pada langkah kaki kita, membuat kita sulit melangkah dan mewujudkan asa, membuat keadaan di sekililing kita gelap gulita. Ya gelap, karena kita telah menutup mata dari rahmatNya, padahal banyak ketentuan Allah lainnya yang sejalan dengan harapan kita namun kita lalai dalam mensyukurinya.

Jadi sahabat, yakinlah apapun yang ditakdirkan Allah pastilah yang terbaik bagi kita. lantas ikhlaslah dalam menyikapi serangkaian takdir yang tidak kita harapkan datangnya. Ambil hikmah dari perjalanan yang ada, PD dengan ketetapannya, mari cintai takdir kita dan mari berkarya lalu bertawakal kepadaNya.